Wed, 02 Apr 2025
Tumbuhan ternyata juga bisa berpuasa: Bagaimana caranya?

Tumbuhan ternyata juga bisa berpuasa: Bagaimana caranya?

The Conversation
28 Mar 2025, 04:10 GMT+10

Tumbuhan juga "berpuasa" sebagai strategi bertahan hidup saat kondisi lingkungan tidak mendukung, seperti kekeringan, musim dingin, atau kurangnya sumber makanan

Bentuk "puasa" tumbuhan beragam, seperti dormansi biji (menunda perkecambahan), dormansi tunas (menghentikan pertumbuhan tunas), dan absisi (menggugurkan daun)

Perubahan iklim bisa membuat tumbuhan lebih sering "berpuasa"

Tahukah kamu jika puasa bukan cuma ada di dunia manusia, tapi juga di dunia tumbuhan?

Tentu saja, jangan membayangkan tumbuhan "berpuasa" dalam arti tradisional seperti manusia-mereka punya cara sendiri.

Jika manusia biasanya berpuasa pada waktu tertentu seperti Ramadan, tumbuhan berpuasa saat kondisi tertentu. Misalnya, saat tidak ada asupan air di masa kekeringan atau saat cuaca panas ekstrem.

Selama "berpuasa", tumbuhan memperlambat aktivitas metabolisme tubuhnya demi bertahan hidup dalam kondisi yang kurang mendukung.

"Puasa" tumbuhan biasa dilakukan dalam beberapa bentuk, seperti:

1. Dormansi biji

Dormansi berarti tidur, mengurangi aktivitas pertumbuhan, atau bisa disebut juga "berpuasa tumbuh". Biji akan dorman saat berada dalam kondisi lingkungan sekitar yang tidak cocok untuk perkecambahan. Misalnya, biji jatuh di bebatuan atau tanah yang kering akan menyebabkan biji "berpuasa" atau tidak banyak melakukan aktivitas pertumbuhan.

Ada dua hormon penentu kapan biji harus "berpuasa" atau berkecambah, yakni asam absisat (ABA) dan giberelin. Kadar ABA tinggi menyebabkan biji tetap "berpuasa", dan sebaliknya, giberelin yang tinggi akan membuat biji berkecambah.

2. Dormansi tunas

Tunas adalah bagian ujung dari tumbuhan, yang biasanya ada di batang, daun, atau akar. Tunas disebut dorman saat meristem atau jaringan tumbuhan yang aktif membelah, tidak bekerja.

Dormansi tunas umum terjadi pada pohon yang hidup di negeri empat musim, seperti pohon poplar (Populus tremula) atau sakura (Prunus serrulata), saat mereka memasuki musim dingin.

3. Absisi atau menggugurkan daun

Jika kamu pernah melihat pohon-pohon menggugurkan daun, itu juga adalah salah satu bentuk "puasa" tumbuhan.

Daun adalah "dapur" tumbuhan tempat mereka memasak bahan-bahan "makanan" yang diperoleh dari tanah (air) dan udara (karbon dioksida) dengan bantuan cahaya matahari. Proses memasak ini disebut sebagai fotosintesis. Jika tumbuhan tidak punya bahan-bahan makanan, maka "dapur" mereka akan "ditutup" sementara dengan cara menggugurkan daun.

Strategi ini membantu tumbuhan menghemat air dan energi agar mereka bisa bertahan hidup lebih lama.

Tumbuhan biasanya "berpuasa" pada kondisi tertentu, seperti berikut ini:

1. Peralihan musim gugur-dingin-semi

Suhu yang turun drastis di musim dingin bisa mengakibatkan pembekuan seluler dan mengganggu suplai air dari perakaran di tanah. Pembekuan seluler ini seperti balon kecil dengan air membeku di dalamnya. Air beku ini dapat dengan mudah merusak kulit sel tumbuhan.

Angin musim dingin yang kering juga mengganggu kelembapan daun dan berpotensi merusak fungsi daun.

Dengan "berpuasa", tumbuhan bisa mengurangi risiko kerusakan dan bertahan hingga musim semi.

2. Kekeringan

Dalam kondisi kekeringan, tumbuhan umumnya "berpuasa" dengan menghemat penggunaan air hanya untuk fungsi vital, salah satunya adalah fotosintesis.

Bahkan di daerah yang sering kering, beberapa tumbuhan tetap "berpuasa" meski sudah memasuki musim hujan, karena mereka terbiasa mengandalkan cadangan air daripada menyerap langsung dari tanah.

Contohnya adalah Pohon Baobab yang menyimpan air di dalam batangnya yang besar untuk bekal menghadapi kemarau panjang. Pohon ini disebut juga semi-sukulen atau tanaman yang mampu menyimpan air. Kerabatnya dari jenis sukulen sejati, seperti kaktus, melakukan hal serupa untuk bertahan di lingkungan yang gersang.

Saat kondisi benar-benar kering, beberapa jenis tumbuhan bahkan bisa "berpuasa ekstrem". Tumbuhan akan tampak seperti mati karena kehilangan sebagian besar kandungan airnya.

Laju metabolisme tumbuhan akan pulih saat kondisi air lingkungan mencukupi. Itulah mengapa mereka dikenal sebagai ressurection plant atau tanaman kebangkitan, salah satu contohnya adalah Craterostigma plantagineum atau blue carpet yang banyak tumbuh di Afrika.

3. Perubahan iklim dan polusi

Polusi dan cuaca yang tidak menentu akibat perubahan iklim juga bisa membuat tumbuhan stres. Ketika tumbuhan mengalami stres, mereka harus mengalihkan energi dari pertumbuhan dan reproduksi ke mekanisme pertahanan. Proses-proses ini membutuhkan energi, sehingga tumbuhan harus mengurangi atau menghentikan sementara pertumbuhan dan reproduksi, seperti "berpuasa".

Selain perubahan iklim, polusi juga membuat tumbuhan harus lebih sering "berpuasa". Polusi ozon (O3) di udara bisa merusak daun. Sementara polusi logam berat di tanah secara umum bisa mengganggu pertumbuhan tumbuhan dan perkecambahan biji.

Masih banyak informasi yang harus digali lewat penelitian lebih lanjut untuk mengetahui bagaimana perubahan iklim dan polusi membuat tumbuhan harus "berpuasa".

Intinya, "berpuasa" bagi tumbuhan bukan sekadar fenomena alam, melainkan bagian dari survival mode atau strategi bertahan hidup saat kondisi lingkungan tidak mendukung.

Masalahnya, jika sebelumnya mayoritas tumbuhan hanya "berpuasa" di musim dingin atau kemarau, kini cuaca yang semakin tidak menentu akibat perubahan iklim dan pencemaran yang disebabkan oleh manusia memaksa mereka "berpuasa" lebih keras, sekaligus lebih lama.

More Turkmenistan News

Access More

Sign up for Turkmenistan News

a daily newsletter full of things to discuss over drinks.and the great thing is that it's on the house!