Pada Kamis, 17 April 2025, The Conversation Indonesia (TCID) kembali menggelar acara diskusi Conversation Corner. Memasuki edisi keduanya, Conversation Corner kali ini mengangkat tema "Born to be Cutesy, Forced to be Money-Hungry: Dilema Finansial Gen Zilenial", sebuah topik yang relevan dengan realita ekonomi dan kesejahteraan mental generasi muda saat ini.
Acara ini menjadi ajang peluncuran dan penguatan kampanye #LikaLikuZilenial yang membahas berbagai tantangan hidup yang dihadapi generasi milenial dan Gen Z dan kini tengah berjalan di berbagai platform milik TCID. Diskusi ini berlangsung hangat dan menjadi ruang refleksi bagi Gen Zilenial atas berbagai tantangan ekonomi yang mereka hadapi.
Acara ini dimoderatori oleh Nurul Fitri Ramadhani, Editor Politik & Masyarakat TCID, dan menghadirkan dua narasumber utama: Septian Bayu Kristanto, dosen dan peneliti di bidang ekonomi publik, serta Rahne Putri, fasilitator wellness yang juga dikenal sebagai Sandwich Gen & Clarity Coach.
Salah satu ciri khas dari Gen Zilenial adalah pilihan mereka dalam memasuki dunia kerja. Berbeda dengan generasi sebelumnya, seperti Generasi X dan baby boomers, yang cenderung mendambakan pekerjaan di sektor formal seperti PNS untuk jaminan hidup yang stabil, banyak Gen Zilenial justru lebih memilih bekerja di sektor informal, khususnya di bidang ekonomi kreatif.
Pilihan ini tentu berdampak pada penghasilan mereka. Gaji rata-rata Gen Zilenial yang bekerja di sektor informal berkisar antara Rp4-6 juta per bulan. Apakah jumlah tersebut cukup atau tidak, sebenarnya sangat bergantung pada gaya hidup masing-masing individu. Namun, di era media sosial seperti sekarang, gaya hidup Gen Zilenial kerap dibentuk oleh dorongan untuk tampil mengikuti tren. Keinginan untuk memiliki barang-barang terbaru dan menjaga eksistensi di dunia digital membuat mereka rentan terjebak dalam hutang konsumtif.
Septian berujar:
Problem lain yang kita bisa temukan di lapangan adalah gajinya Gen Z itu rata-rata masih sekitar 4-6 juta. Kalau dia hidupnya di Jakarta ya nggak cocok karena kan biaya hidupnya sekitar 6-8 juta. Sangat kurang sekali. Oleh karena itu mereka kebeban yang namanya hutang konsumtif. Yang paling banyak sih cicilan untuk gadget, kemudian untuk fashion, atau untuk paylater, karena kan mereka kebutuhan eksistensinya lebih tinggi dibandingkan kebutuhan primernya.
Media sosial bukan sekadar tempat bersenang-senang, tapi juga panggung validasi dan pencitraan untuk Gen Zilenial. Berbeda dengan generasi sebelumnya yang hidup tanpa paparan digital, generasi ini tumbuh di tengah arus informasi dan standar kehidupan yang terus menerus ditampilkan secara visual.
Setiap hari, Gen Zilenial disuguhkan dengan narasi kesuksesan: memiliki rumah di usia muda, karier yang cemerlang sebelum usia 30, dan pasangan yang "ideal". Ketika realita hidup mereka tidak sejalan dengan standar tersebut, perasaan gagal pun kerap muncul, dan membuat mereka tak bisa menikmati pencapaian pribadi mereka yang sebetulnya sangat berarti.
Tekanan sosial ini menciptakan beban mental yang tidak sedikit. Banyak dari mereka merasa lelah secara emosional karena merasa harus membuktikan diri di dunia nyata maupun dunia digital. Rahne berkata:
Ayah kita ya berhasil di kantor pas jadi PNS nggak ada tuh harus menunjukkan diri, nggak ada panggungnya. Tapi saat ini tuh semuanya jadi panggung. Jadi banyak Gen Z yang tidak sadar mengejar validasi sehingga mengorbankan koneksi sama diri sendiri. Seperti mengejar validasi tapi juga haus maknanya karena semuanya juga melakukan hal yang sama.
Istilah sandwich generation kini semakin populer digunakan untuk menggambarkan kelompok Gen Zilenial yang harus menopang kebutuhan hidup dirinya sendiri, orang tua, bahkan adik atau anak. Dalam diskusi, Rahne menyoroti bahwa beban ini bukan hanya bersifat finansial, tetapi juga menciptakan pola pikir keuangan yang kurang sehat. Sandwich generation sering kali menjadi penopang utama keluarga, padahal mereka sendiri masih dalam tahap belajar mengelola kehidupan dan keuangan pribadi.
Rahne menegaskan:
Orang-orang yang baru masuk dunia kerja ini kan sebenarnya prefrontal cortex-nya belum terbentuk sempurna. Sebenarnya masih ada anak-anaknya, loh. Tapi karena ketakutan-ketakutan seperti takut nggak bisa bahagiain orang tua, tekanan dari media sosial tentang kesuksesan. Kalau nggak hati-hati, anak-anak ini bisa jadi dewasa terlalu cepat.
Kondisi ini menyebabkan banyak dari mereka terbiasa memberi kepada orang lain, tapi lupa memberi pada diri sendiri. Rahne pun menekankan bahwa solusi dari permasalahan ini tidak berhenti pada pengelolaan keuangan, tetapi juga menyentuh aspek emosional yang mendasari kebiasaan konsumtif. Ia menyarankan:
Tarik napas dulu sebelum transaksi... tanya ke diri sendiri, ini saya beli karena butuh atau karena luka?
Di tengah tekanan finansial dan sosial yang ada, Gen Zilenial sebenarnya sedang membentuk cara hidup baru yang lebih asertif dengan berani menyadari dan menyuarakan kerentanannya.
Meskipun masih banyak tantangan yang akan dihadapi Gen Zilenial ke depannya, ada harapan untuk Gen Zilenial mewujudkan kehidupan impian melalui literasi keuangan, investasi pendidikan dan kesehatan, dan membangun komunitas yang suportif.
Nurul, editor politik dan masyarakat kami, menambahkan:
Hidup itu bukan soal siapa yang paling cepat sukses, tapi siapa yang paling paham dan nyaman dengan dirinya sendiri.
Acara Conversation Corner akan hadir secara rutin setiap bulannya bersama akademisi, peneliti, dan pakar untuk membahas isu saintifik terkini. Jika kamu tertarik untuk bekerja sama mengadakan diskusi bersama The Conversation Indonesia, hubungi kami di: [email protected]



















