Secara historis dan religius, 'retret' merujuk pada praktik Kristiani yang melibatkan keheningan dan refleksi spiritual.
Penggunaan istilah 'retret' oleh pemerintah dan organisasi di luar konteks religius menimbulkan salah kaprah.
Jika terus digunakan secara keliru, makna asli dari retret akan terdistorsi oleh kepentingan politik dan budaya populer.
Popularitas istilah retret-kegiatan religius di kalangan umat Kristiani-meningkat sejak digunakan Prabowo sebagai nama kegiatan para menteri dan wakil menteri pada 24-27 Oktober 2024 di Akademi Militer Magelang, dan kegiatan kepala daerah pada 21-28 Februari 2025 di tempat yang sama.
Tak hanya pemerintah, organisasi juga sering menggunakan istilah retret. Padahal, berbeda dengan pendidikan dan pelatihan (diklat), workshop, pembekalan atau pekan orientasi, retret sebenarnya merujuk pada kegiatan religius.
Artinya, tidak tepat melabeli kegiatan community building, outbound dan rekreasi yang dilaksanakan perusahaan sebagai retret.
Istilah retret juga sering disamakan dengan liburan kebugaran (wellness holiday). Ini adalah kesalahkaprahan. Sebab, retret bukan semata-mata beristirahat, mengasingkan diri, menenangkan diri atau menyegarkan diri.
Dari sudut pandang sejarah, serapan kata 'retret' dan perspektif religius yang melekat pada kata ini, terdapat setidaknya dua hal mendasar dari kegiatan retret. Pertama, suasana keheningan. Kedua kegiatan reflektif dan kontemplatif untuk mendorong transformasi personal.
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) daring mendefinisikan retret sebagai "menarik diri sejenak dari rutinitas untuk mendekatkan diri dengan Tuhan". Artinya, retret adalah kata serapan dan memiliki nuansa makna religius di dalam bahasa Indonesia.
Menariknya, kata ini baru tertera dalam KBBI edisi ketiga. Namun, berdasarkan wawancara penulis dengan seorang rohaniwan senior, kata 'retret' sudah digunakan pada tahun 1950an di kalangan umat Katolik di Indonesia-untuk menamai kegiatan mengasingkan diri selama beberapa hari di dalam keheningan dan doa di bawah pendampingan rohaniwan.
Retret memiliki kemiripan dengan kata retreat dalam bahasa Inggris-yang memiliki banyak makna. Salah satu maknanya adalah tindakan menarik diri dari kesibukan untuk berdoa dan merenung.
Namun, kata 'retret' dalam konteks ini diserap dari bahasa Belanda-bukan bahasa Inggris-karena terkait dengan perkembangan agama Kristiani di Indonesia yang disebarkan oleh para misionaris dari Eropa, khususnya Belanda.
Retret adalah serapan dari kata retraite. Istilah retraite dalam bahasa Belanda ini sebenarnya merupakan serapan utuh dari bahasa Prancis. Istilah retreat dalam bahasa Inggris juga merupakan serapan dari bahasa Prancis.
Di dalam Theologische Woordenboek III (1958), retraite didefinisikan sebagai kegiatan menarik diri dari kesibukan duniawi untuk mengolah hidup rohani di dalam keheningan. Unsur keheningan ini adalah salah satu ciri utama kegiatan retret.
Para Bapa Gereja (teolog dan penulis Kristiani) sudah menganjurkan praktik retret di kalangan umat Kristiani sejak abad 1-5 M. Tujuan dari retret adalah mengendalikan diri agar tidak dikuasai oleh kecenderungan-kecenderungan yang tidak teratur maupun godaan-godaan yang dapat menjatuhkan atau menyesatkan.
Retret adalah olah atau latihan rohani secara intensif selama beberapa hari, sebagai upaya manusia untuk memperbaharui diri dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Cara melakukan olah rohani adalah melalui doa, meditasi, dan refleksi dalam keheningan.
Dalam tradisi Kristiani, retret merupakan kegiatan kontemplatif dan reflektif. Secara intelektual, refleksi adalah proses pemaknaan pengalaman untuk menggali kedalaman dan hubungan dengan penglamaan-pengalaman yang lain ataupun ide-ide yang berkaitan dengan moral.
Sementara dalam konteks religius, refleksi adalah melihat ke dalam diri sendiri untuk mengenali apa yang menjadi kehendak Tuhan. Dari refleksi inilah, jalan pertobatan akan terbuka.
Bisa dibilang, retret adalah quality time di dalam keheningan. Tetapi dalam praktiknya, istilah retret justru digunakan secara manasuka dengan mengabaikan unsur keheningan tersebut.
Pemberitaan baik dari pihak pemerintah ataupun dari media, misalnya, sering menciptakan kegaduhan. Sementara retret yang dilakukan oleh organisasi juga lebih banyak diwarnai dengan kegiatan-kegiatan membangun kedekatan antarkaryawan, bukan antara manusia dengan Tuhan.
Selain itu, politik memiliki kekuatan untuk menggeser atau bahkan mendistorsi makna. Jika pemerintah terus-menerus menggunakan istilah retret dalam konteks yang keliru, bisa jadi kata 'retret' akan semakin tergerus makna aslinya.




















