Petani bergulat dengan tantangan perubahan iklim. Cuaca yang tidak menentu membuat petani harus berhadapan dengan risiko gagal panen
Setiap daerah memiliki strategi yang berbeda-beda dalam mengatasi perubahan iklim
Studi merekomendasikan kebijakan berbasis gender, peran aktif pemerintah daerah, serta peningkatan akses informasi untuk membantu strategi adaptasi petani
Petani kecil adalah ujung tombak ketahanan pangan nasional. Namun kini mereka harus bergulat dengan banyak tantangan, terutama perubahan iklim.
Anomali cuaca yang sering tak menentu memperbesar risiko gagal panen. Kalau pun berhasil panen, kualitas pangan yang dihasilkan cenderung menurun.
Mau tidak mau, petani perlu menyesuaikan diri dengan keadaan. Riset terbaru kami menunjukkan setiap daerah punya strategi yang berbeda-beda dalam menghadapi perubahan iklim.
Kami juga menemukan, ada tiga hal yang memengaruhi strategi adaptasi mereka, yakni; gender, akses pada bantuan pemerintah, dan akses terhadap informasi.
Kami bersama para peneliti organisasi masyarakat sipil lokal dari Aliansi Kolibri mewawancarai 125 petani di Mentawai (Sumatra Barat), Tanjung Jabung Barat (Jambi), Kotawaringin Barat (Kalimantan Tengah), Buton (Sulawesi Tenggara), Sikka (Nusa Tenggara Timur) dan Fakfak (Papua Barat) sepanjang Januari hingga Juni 2022. Daerah-daerah tersebut mewakili tiga wilayah iklim Indonesia yakni monsoon (monsun), ekuator dan lokal.
1. Wilayah monsoon
Petani wilayah iklim monsoon di Tanjung Jabung Barat (Jambi), Kotawaringin Barat (Kalimantan Tengah), Buton (Sulawesi Tenggara), dan Sikka (Nusa Tenggara Timur) merasakan peningkatan curah hujan dalam 10 tahun terakhir. Persepsi ini sejalan dengan data NASA Power yang menunjukkan adanya kenaikan curah hujan rata-rata sekitar +2.39 mm/hari di wilayah monsun.
Imbasnya, sekitar 88% petani di wilayah iklim monsun melaporkan penurunan hasil produksi pertanian dibandingkan 10 tahun sebelumnya. Dampak ini paling terasa pada komoditas utama seperti kelapa sawit, kelapa, kakao, dan kemiri-tanaman yang memerlukan kelembapan seimbang.
Menghadapi situasi ini, petani lokal beradaptasi dengan menggabungkan tiga strategi, yakni: diversifikasi tanaman, perawatan lahan, dan diversifikasi mata pencaharian.
Di Buton, misalnya, petani tak lagi sekadar menjual kelapa, tetapi mulai mengolahnya menjadi produk turunan seperti minyak kelapa dan kopra. Upaya pasca panen ini memberikan nilai tambah dan membuka sumber pendapatan baru bagi mereka.
Di Tanjung Jabung Barat dan Sikka, komoditas utama pertanian masing-masing adalah sawit dan cokelat serta kemiri. Kini, saat musim tanam semakin tidak pasti, petani mulai menanam beragam tanaman hortikultura, jagung, atau tanaman yang tahan cuaca ekstrem untuk mengurangi ketergantungan pada satu jenis komoditas saja. Petani di Tanjung Jabung juga membuat embung atau kolam penampungan air hujan sebagai bagian dari manajemen lahan mereka.
2. Iklim ekuator
Di wilayah iklim ekuator (Mentawai, Sumatra Barat) curah hujan cenderung stabil dan meningkat secara perlahan dalam satu dekade terakhir dengan rata-rata curah hujan bulanan pada 2011 kisaran 367 mm dan menjadi 391 mm pada 2022.
Tidak seperti di wilayah iklim monsun, petani Mentawai dengan produksi pisang sebagai komoditas utama justru mengalami peningkatan hasil panen. Sehingga, petani di sini fokus pada pemeliharaan lahan dan tidak ada diversifikasi tanaman karena kondisi iklim dan produksi tanaman pisang relatif stabil.
Petani di Mentawai biasanya mengandalkan middlemen atau perantara untuk mendapat informasi dari Dinas Kominfo atau Kantor Syahbandar soal jadwal kapal pengangkut hasil kebun ke ibu kota provinsi di Kota Padang. Informasi ini menjadi dasar mereka menentukan waktu panen, sehingga hasil pertanian bisa dijual dalam kondisi terbaik dan tidak busuk selama pengiriman.
3. Iklim lokal
Petani di Fakfak merasakan bahwa curah hujan cenderung panjang dan kenaikan yang tajam dalam satu dekade terakhir. Rata-rata curah hujan bulanan pada 2011 hanya 304 mm dan naik menjadi 407 mm di 2022.
Petani Fakfak, Papua Barat fokus pada pemeliharaan lahan sebagai respons terhadap situasi tersebut. Misalnya, petani pala memangkas pohon secara rutin untuk mengurangi kelembapan, mempertahankan produktivitas sekaligus menjaga kesehatan tanaman di tengah cuaca ekstrem.
Sama seperti di Mentawai, di Fakfak tidak ditemukan praktik diversifikasi tanaman maupun diversifikasi penghasilan, petani tetap bertahan dengan pala sebagai komoditas utama di daerah mereka.
Riset kami menemukan, ragam strategi adaptasi petani di tiga wilayah iklim Indonesia di atas dipengaruhi tiga faktor utama, yakni; gender, akses informasi, dan akses bantuan pemerintah.
Kami menemukan bahwa petani yang menerima bantuan pemerintah, terutama subsidi hingga akses modal, cenderung lebih berani untuk mencoba pola tanam yang lebih beragam dan membuka usaha non-pertanian untuk menambah pendapatan seperti yang terjadi di wilayah iklim monsoon.
Adapun di wilayah iklim ekuator dan lokal, peran bantuan pemerintah cenderung fokus pada penguatan kapasitas lokal, seperti penguatan kelompok tani, sehingga adaptasi di sana lebih banyak pada pemeliharaan lahan.
Kami juga menemukan strategi pemeliharaan lahan umumnya dilakukan oleh petani laki-laki. Hal ini disebabkan oleh peran sosial dan pembagian kerja berbasis gender, di mana laki-laki lebih dominan dalam kegiatan yang memerlukan tenaga fisik tinggi, seperti perawatan lahan atau pengolahan tanah, sementara perempuan cenderung lebih banyak terlibat dalam kegiatan pasca panen.
Akses terhadap informasi juga menjadi kunci adaptasi. Temuan di Mentawai menunjukkan, informasi dari jaringan lokal sangat berpengaruh untuk membuat keputusan teknis, seperti waktu jadwal panen terbaik.
Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto sejak awal menegaskan akan fokus pada ketahanan pangan. Namun ambisi itu hanya akan terwujud jika didukung oleh keberlanjutan petani kecil-mereka yang menyumbang sebagian besar produksi pangan nasional.
Riset ini menunjukkan bahwa petani telah membuktikan kemampuannya untuk beradaptasi, menggabungkan tradisi lokal dengan pendekatan ilmiah. Tapi kreativitas saja tidak cukup. Mereka butuh dukungan nyata.
Pemerintah harus menjamin akses terhadap teknologi, informasi, pembiayaan dan infrastruktur yang memadai. Selain itu, juga diperlukan penguatan kebijakan adaptasi yang sensitif gender untuk meningkatkan keterlibatan perempuan dalam pertanian.
Mengingat kondisi alam dan iklim yang beragam, pemerintah tidak bisa menerapkan pendekatan "satu untuk semua". Adaptasi harus disesuaikan dengan kondisi iklim lokal dan faktor sosial-ekonomi masing-masing daerah.
Dalam hal ini, pemerintah daerah mesti mengambil peran aktif untuk menjamin ketahanan pangan lokal dan memperjuangkan nasib para petani dari dampak perubahan iklim.
Safira Andrista selaku Partnership and Reporting Officer Yayasan Kaleka berkontribusi dalam artikel ini sebagai penulis utama hasil penelitian.




















