Kasus buta akibat diabetes makin marak: Ketahui cara mencegahnya

Kasus buta akibat diabetes makin marak: Ketahui cara mencegahnya

The Conversation
31 May 2025, 02:04 GMT+10

Orang dengan diabetes rentan mengalami gangguan penglihatan akibat retinopati diabetik.

Rutin lakukan pemeriksaan mata kurangi risiko pasien diabetes mengalami retinopati.

Disiplin mengontrol gula darah juga penting untuk mencegah kerusakan retina akibat diabetes.

Diabetes melitus (kencing manis) merupakan penyakit kronis yang dapat menyebabkan komplikasi pada berbagai organ, termasuk mata. Salah satu komplikasinya bernama retinopati diabetik, yaitu kerusakan pembuluh darah dan sel-sel saraf retina akibat tingginya kadar gula darah.

Retina adalah lapisan tipis di belakang mata yang berfungsi menangkap cahaya, lalu mengubahnya menjadi informasi visual sehingga seseorang bisa melihat dengan jelas. Retina yang rusak akibat diabetes sangat berbahaya karena berisiko menyebabkan terganggunya penglihatan hingga kebutaan permanen.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan sepertiga pasien kencing manis berisiko mengalami retinopati diabetik. Kasus kebutaan akibat retinopati diabetik pun semakin banyak seiring meningkatnya jumlah orang dengan diabetes, terutama di Asia Tenggara.

International Diabetes Federation (IDF) Atlas memperkirakan Asia Tenggara memiliki sekitar 106,9 juta pasien diabetes pada 2024. Di tahun yang sama, Indonesia menempati peringkat kelima global pasien diabetes terbanyak dengan 20,4 juta orang.

Data International Agency for the Prevention of Blindness dari tahun 1990-2020 menunjukkan bahwa kasus buta akibat retinopati diabetik meningkat sebanyak 286,7% di kawasan Asia Tenggara, Asia Timur, dan Oseania.

Salah satu faktor utama yang meningkatkan risiko seseorang terkena retinopati diabetik adalah durasi mengidap diabetes. Semakin lama seseorang mengidap diabetes, semakin besar risikonya mengalami retinopati.

Diabetes sendiri ada dua jenisnya, yaitu diabetes tipe 1 berupa lonjakan kadar gula darah karena tubuh menghasilkan sedikit atau tidak sama sekali insulin (hormon yang mengubah gula darah menjadi energi). Adapun kenaikan gula darah akibat diabetes tipe 2 disebabkan oleh resistensi insulin alias ketidakmampuan tubuh merespons hormon insulin secara efektif.

Orang dengan diabetes tipe 1, berisiko 25% mengalami retinopati dalam lima tahun pertama, kemudian berkembang menjadi 80% setelah 15 tahun mengidap kencing manis.

Adapun orang dengan diabetes tipe 2, berisiko 2% mengalami retinopati diabetik proliferatif (kerusakan retina tahap lanjut) dalam lima tahun pertama, lalu berkembang menjadi 25% setelah 25 tahun mengidap diabetes.

Selain durasi mengidap kencing manis, faktor lain yang meningkatkan risiko pasien diabetes mengalami retinopati, yaitu kadar gula darah, tekanan darah, dan kadar lemak darah.

Karena itu, agar tidak terkena retinopati diabetik dan mencegah komplikasi berkembang semakin parah, orang diabetes perlu mengontrol gula darah dan pola hidup sehat secara menyeluruh melalui sejumlah cara berikut:

1. Deteksi dini lewat pemeriksaan mata

Retinopati diabetik sering kali tidak menimbulkan gejala pada fase awal. Banyak pasien baru menyadari gangguan penglihatan saat retina sudah mengalami kerusakan berat.

Untuk mengantisipasi risiko ini, pasien diabetes perlu melakukan pemeriksaan retina secara rutin. Pemeriksaan idealnya dilakukan minimal satu kali dalam setahun atau lebih sesuai dengan tingkat keparahan retinopati.

Orang dengan diabetes tipe 2 sebaiknya segera melakukan pemeriksaan retina setelah menerima diagnosis kencing manis dari dokter. Sementara pasien diabetes tipe 1 bisa melakukan pemeriksaan mata lima tahun setelah didiagnosis mengidap penyakit gula.

Cek mata untuk mendeteksi perubahan dini yang bisa dilakukan, antara lain pemeriksaan tajam penglihatan, funduskopi, ataupun foto retina di layanan primer (puskesmas dan klinik).

Jika ditemukan ciri-ciri retinopati (seperti penglihatan kabur, berbayang, bintik-bintik/garis hitam pada retina), maka dokter bisa memberikan tindakan lanjutan, seperti edukasi hingga rujukan ke dokter spesialis mata. Dokter spesialis kemudian bisa memberikan terapi sesuai kondisi pasien, seperti injeksi anti-VEGF, laser, atau operasi retina.

2. Menjaga gula darah tetap stabil

Penelitian dalam Cardiovascular Diabetology mengungkapkan bahwa fluktuasi kadar gula darah bisa menyebabkan berbagai kondisi yang berisiko merusak retina. Kondisi yang dimaksud, seperti stres oksidatif (ketidakseimbangan kadar radikal bebas dan antioksidan dalam tubuh), pertumbuhan pembuluh darah baru (neovaskularisasi), serta kerusakan sawar pembuluh darah di retina.

Menjaga kadar gula darah tetap stabil berpotensi mencegah perkembangan retinopati diabetik. Caranya dengan mulai menjalani gaya hidup sehat, seperti pola makan sehat bergizi seimbang, olahraga teratur, disiplin konsumsi obat penurun gula darah, serta mengelola stres dengan baik.

Selain itu, kontrol juga sejumlah faktor yang meningkatkan risiko retinopati lainnya, seperti darah tinggi dan kadar lemak darah berlebih.

Mencegah kasus buta akibat retinopati diabetik membutuhkan kolaborasi lintas sektor, meliputi dokter umum, dokter ahli endokrin, dokter gizi, pendidik diabetes, dan yang terpenting adalah pasien itu sendiri.

Pasien diabetes perlu memahami bahwa kesehatan penglihatannya rentan akibat penyakit metabolik yang diidap. Karena itu, segera lakukan pemeriksaan mata dini serta kontrol gula darah secara disiplin lewat gaya hidup sehat agar terhindar dari gangguan penglihatan akibat diabetes.

More Turkmenistan News

Access More

Sign up for Turkmenistan News

a daily newsletter full of things to discuss over drinks.and the great thing is that it's on the house!