Share article
Print article
Banyak ibu berhenti menyusui karena minimnya edukasi dari tenaga kesehatan.
Konseling menyusui dari tenaga kesehatan bisa tingkatkan keberhasilan ibu menyusui secara eksklusif.
Pemerintah perlu berinvestasi untuk tingkatkan kemampuan konseling menyusui tenaga kesehatan.
Artikel ini untuk memperingati Pekan Menyusui Sedunia 1-7 Agustus.
Menyusui lebih dari sekadar memberikan ASI lewat payudara guna memenuhi kebutuhan gizi bayi. Aktivitas ini memiliki manfaat yang sangat luas, dari memastikan kesejahteraan ibu, mengoptimalkan tumbuh kembang anak, mengurangi beban finansial keluarga, hingga mencegah pencemaran lingkungan.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan menganjurkan setiap negara untuk berinvestasi lebih dalam mendukung praktik menyusui guna mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Salah satu investasi yang sangat dibutuhkan adalah memperbanyak pelatihan edukasi/konseling menyusui bagi tenaga kesehatan.
Berbagai riset menunjukkan bahwa kurangnya edukasi soal teknik menyusui yang tepat maupun minimnya dukungan berkelanjutan dari tenaga kesehatan menyebabkan banyak ibu berhenti menyusui sebelum rentang waktu yang direkomendasikan.
Penelitian tinjauan pustaka kami dari tahun 2018-2023 mengungkapkan bahwa pelatihan konseling menyusui untuk tenaga kesehatan sangat penting karena bisa berdampak signifikan terhadap keberhasilan ibu menyusui dengan tepat waktu.
Banyak ibu masih percaya bahwa ASI saja tidak cukup memenuhi kebutuhan gizi bayi selama 6 bulan pertama. Kesalahpahaman ini mendorong para ibu memberikan susu formula, air putih, ataupun makanan pendamping (MPASI) lebih awal-yang justru bisa menyebabkan anak mengalami masalah pencernaan hingga risiko obesitas di masa depan.
Kesalahan dalam teknik menyusui sering pula terjadi tanpa disadari, seperti pelekatan payudara yang tidak tepat hingga kurangnya frekuensi menyusui. Akibatnya, payudara ibu terasa nyeri, suplai ASI menurun, dan bayi merasa tidak puas.
Ini berisiko memperkuat anggapan para ibu bahwa ASI mereka tidak mencukupi, sehingga mereka memilih berhenti menyusui sebelum waktu yang direkomendasikan. WHO menganjurkan ASI eksklusif diberikan selama 6 bulan pertama, dilanjutkan dengan pemberian ASI beserta MPASI hingga usia 2 tahun.
Ironisnya, tenaga kesehatan yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam promosi praktik menyusui sering kali belum dibekali pelatihan memadai untuk memberikan edukasi yang tepat.
Banyak ibu kemudian memilih untuk mengandalkan media sosial. Sayangnya, mereka justru menerima informasi keliru, bahkan saling bertentangan sehingga membuat mereka kian enggan menyusui.
Kondisi ini diperparah oleh kurangnya pemahaman para ibu mengenai manfaat menyusui yang sangat luas. Misalnya, menyusui dapat menurunkan angka kematian ibu dan bayi.
Menyusui bisa mengurangi risiko ibu mengalami masalah kesehatan yang mengancam jiwa, seperti kanker ovarium dan payudara, diabetes tipe 2, hingga tekanan darah tinggi. Pemberian ASI eksklusif hingga anak berusia 2 tahun juga bermanfaat menghindarkan si kecil dari risiko mengalami penyakit infeksi, obesitas, tekanan darah tinggi, gangguan pernapasan, hingga diabetes.
Menyusui juga bisa membantu mengurangi beban finansial keluarga, khususnya dalam menghemat pembelian susu formula maupun biaya pengobatan akibat terganggunya kesehatan ibu dan anak.
Lebih dari itu, menyusui bisa mengurangi dampak pencemaran lingkungan yang ditimbulkan oleh limbah susu formula.
Read more: Aksi iklim para bidan: galakkan praktik menyusui
Kami melakukan pelatihan edukasi menyusui dengan peserta bidan dari tiga puskesmas di Kendal, Jawa Tengah. Para peserta kemudian berhasil memberikan konseling menyusui kepada 205 ibu hamil, 70 ibu pascapersalinan, dan 186 pasangan.
Penelitian kami menunjukkan bahwa semakin banyak tenaga kesehatan (khususnya bidan) yang bisa memberikan edukasi teknik menyusui yang tepat beserta manfaatnya, semakin banyak pula ibu yang menyadari pentingnya ASI bagi anak mereka. Pengetahuan ini sekaligus bisa membangun kepercayaan diri ibu dalam menyusui.
Karena itu, peningkatan kapasitas tenaga kesehatan melalui pelatihan berbasis bukti sangat krusial guna memastikan setiap ibu mendapatkan dukungan yang konsisten dan akurat dalam perjalanan menyusuinya.
WHO dan UNICEF juga menekankan pentingnya meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan untuk bantu mencapai target menyusui global.
Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023, memperkirakan bahwa pemberian ASI ekslusif selama 6 bulan pada anak usia 6-23 bulan di Tanah Air hanya mencapai 55,5%. Meski sudah memenuhi target global (50%), tetapi angka ini masih jauh dari target nasional (80%).
Untuk mencapai target tersebut, pemerintah perlu meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan dalam memberikan konseling menyusui lewat sejumlah langkah berikut:
1. Standardisasi kurikulum menyusui untuk semua tenaga kesehatan
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pada 2022 telah merilis pedoman Pelatihan Konseling Menyusui bagi tenaga kesehatan.
Sayangnya, pedoman ini belum distandardisasi ke dalam kurikulum menyusui. Akibatnya, calon tenaga kesehatan menerima pendidikan konseling menyusui yang bervariasi dari masing-masing institusi pendidikan.
Idealnya, pendidikan koseling menyusui perlu diseragamkan sesuai standar Kemenkes dan WHO, sehingga tenaga kesehatan bisa memberikan pelatihan yang optimal.
2. Pelatihan berkelanjutan berbasis praktik lapangan
Sebagian besar pelatihan menyusui masih fokus pada teori, tanpa diimbangi dengan pembelajaran berbasis praktik yang memadai.
Akibatnya, lulusan tenaga kesehatan sering kali kurang percaya diri atau tidak memiliki keterampilan langsung dalam mendampingi ibu menyusui. Misalnya, dalam membantu pelekatan yang benar, mengatasi masalah laktasi (proses produksi ASI), hingga memberikan dukungan emosional secara efektif.
Penggunaan media edukasi bergambar menggunakan breastfeeding flashcards (BFC) juga dapat membantu tenaga kesehatan mengedukasi ibu.
3. Anggaran khusus untuk pelatihan edukasi menyusui
Indonesia merupakan satu dari lima negara (Cina, India, Meksiko, dan Nigeria) yang kurang dalam mendanai program pemberian ASI. Ini mengakibatkan kematian 236 ribu anak per tahun dan kerugian ekonomi yang ditaksir mencapai US$119 juta (Rp1,9 triliun).
Studi pada 2022 juga menunjukkan bahwa pemerintah belum mengalokasikan anggaran untuk pelatihan edukasi menyusui bagi bidan dan perawat.
Pemerintah perlu memprioritaskan praktik menyusui, termasuk mengalokasikan dana khusus pelatihan edukasi menyusui bagi tenaga kesehatan.
4. Kebijakan pendukung konseling menyusui
Dukungan terhadap pemberian ASI juga perlu diperkuat di lingkungan kerja melalui kebijakan yang mendukung ibu menyusui, seperti pemberian cuti melahirkan yang memadai, serta penyediaan ruang laktasi yang layak.
Selain itu, pengawasan dan penegakan regulasi terkait pemasaran dan penjualan susu formula perlu diperketat, agar tidak menghambat upaya promosi menyusui. Kedua hal ini merupakan komponen penting dalam menciptakan lingkungan yang kondusif untuk mencapai praktik menyusui yang optimal.
Read more: Jumlah ibu yang berikan ASI eksklusif menurun: pesan kampanye ASI harus lebih efektif
Tanpa edukasi dan dukungan dari tenaga kesehatan yang terlatih, ibu akan kesulitan menyusui sesuai rentang waktu yang direkomendasikan.
Oleh karena itu, pemerintah perlu berinvestasi dalam pelatihan konseling menyusui sebagai salah satu strategi kesehatan, sekaligus fondasi bagi sistem dukungan sosial yang berkelanjutan.




















