Cek kesehatan gratis saja tidak manjur tuntaskan masalah kesehatan di pesantren

Share article

Print article

Cek kesehatan gratis tidak akan berjalan efektif tanpa upaya pencegahan penyakit lainnya.

Cakupan pemeriksaan perlu diperluas, terutama untuk masalah kesehatan laten di pesantren seperti kudis.

Alokasi anggaran sebaiknya tidak hanya berfokus pada cek kesehatan gratis saja.

Per tanggal 4 Agustus 2025 lalu, pemerintah mulai memberlakukan program cek kesehatan gratis untuk seluruh pelajar di Indonesia. Pesertanya siswa sekolah umum (SD-SMA), sekolah rakyat, maupun sekolah keagamaan, termasuk para santri di pesantren.

Pondok pesantren merupakan lingkungan padat yang berisiko tinggi menimbulkan beragam masalah kesehatan, seperti infeksi saluran pernapasan, kudis, tuberkulosis, gizi buruk, hingga gangguan mental.

Cek kesehatan diharapkan dapat mendeteksi dini gangguan fisik dan jiwa para santri, sehingga bisa mencegah berkembangnya masalah kesehatan, serta menciptakan lingkungan belajar yang sehat.

Kondisi kesehatan para santri yang akan diperiksa, meliputi perilaku merokok, status gizi, tingkat aktivitas fisik, kondisi penglihatan, pendengaran, serta kesehatan gigi-mulut.

Selain itu, terdapat pemeriksaan darah, skrining penyakit menular (TB, hepatitis B dan C), talasemia, kesehatan reproduksi, hingga kesehatan jiwa.

Pertanyaannya, apakah salah satu program unggulan Presiden Prabowo Subianto ini cukup untuk mengatasi masalah kesehatan di pesantren?

Pemeriksaan kesehatan termasuk salah satu tindakan pencegahan penyakit yang direkomendasikan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dalam Pedoman Pesantren Sehat 2019.

Pesantren Sehat adalah program pemberdayaan masyarakat pesantren untuk menjaga kesehatan lingkungan dan masyarakat sekitar.

Dalam Pedoman Pesantren Sehat, cek kesehatan gratis tidak bisa berjalan sendirian. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa skrining kesehatan hanya bermanfaat jika disertai dengan tindakan untuk mengurangi dampak penyakit.

Salah satu upaya terpenting adalah penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Misalnya, membiasakan santri untuk mencuci tangan pakai sabun dan air mengalir, mengonsumsi jajanan sehat dan bergizi, menggunakan jamban bersih, berolahraga secara teratur, memberantas jentik nyamuk, tidak merokok, membuang sampah pada tempatnya, serta menjaga kebersihan lingkungan pesantren.

Sejumlah studi menunjukkan bahwa edukasi penerapan PHBS efektif dalam mendorong santri menjalani praktik kebersihan pribadi guna mencegah penyakit di lingkungan pesantren.

Contohnya, studi tahun 2016 yang melibatkan 114 santri di Jember, Jawa Timur, mengungkapkan bahwa PHBS mendorong 66,7% siswa menjadi lebih rajin berolahraga, menghindari rokok, mengukur tinggi badan tiap enam bulan sekali, serta rajin membersihkan toilet.

Sayangnya, perilaku hidup bersih dan sehat masih menjadi isu utama di sekolah berbasis asrama karena penerapannya sering tidak konsisten.

Penelitian menunjukkan bahwa tidak semua santri menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, meskipun mereka menerima sosialisasi PHBS.

Akibatnya, masih banyak pesantren yang memiliki pengelolaan sampah yang buruk serta santri dengan konsumsi gizi yang kurang seimbang.

Salah satu penyebab utama tidak konsistennya penerapan PHBS adalah rendahnya keterlibatan santri husada (kader kesehatan di pondok pesantren) dalam menjamin kesehatan lingkungan pesantren.

Penelitian kuantitatif terhadap santri husada di Jember mengungkapkan hanya 52,2% kader yang mempromosikan perilaku hidup bersih dan sehat dengan baik.

Untuk meningkatkan keterlibatan santri husada, tenaga kesehatan dari puskesmas setempat perlu aktif dan konsisten dalam melakukan pendampingan dan pemantauan berkelanjutan promosi kesehatan.

Sementara itu, pengasuh dan orang tua juga perlu terlibat aktif dalam mendorong partisipasi santri dalam menerapkan PHBS.

Hal yang tak kalah penting adalah perawatan berkelanjutan dalam mencegah dan mengatasi penyakit, seperti imunisasi, serta pemberian obat bagi para santri.

Selain harus terintegrasi dengan upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit, jenis pemeriksaan kesehatan perlu diperluas dan disesuaikan dengan masalah kesehatan yang sering terjadi di pesantren.

Misalnya, di dalam cek kesehatan gratis yang ditawarkan pemerintah belum ada pemeriksaan kulit untuk mendeteksi kudis.

Read more: Kenapa skabies mudah ditemukan di kulit santri di pesantren?

Penyakit kulit yang dikenal pula sebagai skabies/gudik ini disebabkan oleh infeksi tungau betina Sarcoptes scabiei. Dampaknya memicu respons imun berupa rasa gatal dan ruam hebat akibat tungau menggali ke dalam kulit dan bertelur.

Pada 2023, sekitar 84,8% penghuni sekolah asrama mengalami kudis. Karena itu, pemeriksaan kulit sangat penting dimasukkan ke dalam pemeriksaan kesehatan para santri.

Tak bisa dimungkiri, tenaga kesehatan masih menjadi garda terdepan dalam penerapan program cek kesehatan gratis. Namun, pemerintah perlu mengantisipasi risiko kekurangan tenaga kesehatan.

Profil Kesehatan Indonesia tahun 2023 mengungkapkan ada sekitar 530 ribu tenaga kesehatan yang bekerja di puskesmas. Sementara itu, jumlah santri di Tanah Air diperkirakan mencapai 3,2 juta orang.

Dari jumlah tersebut, idealnya satu tenaga kesehatan menangani enam santri. Masalahnya, tenaga kesehatan juga harus menangani cek kesehatan gratis di seluruh institusi pendidikan, dari SD/MI, SMP/MTS, dan SMA/SMK/MA.

Belum lagi, tenaga kesehatan harus melayani masyarakat umum di puskesmas.

Keterbatasan sarana prasarana dan anggaran operasional untuk program promosi kesehatan dari puskesmas juga bisa menjadi hambatan lainnya.

Keterbatasan SDM dan anggaran ini bisa menyebabkan peningkatan beban kerja serta penurunan kualitas layanan dari tenaga kesehatan.

Memaksimalkan peran santri husada bisa menjadi pilihan untuk mendukung promosi kesehatan maupun pendataan hasil pemeriksaan kesehatan para santri.

Santri husada perlu dibekali pelatihan tambahan, seperti bantuan hidup dasar, antropometri (mengukur tinggi, berat, dan lingkar kepala), pengukuran tanda-tanda vital, manajemen pos kesehatan pesantren, maupun pelatihan lain yang relevan.

Selain itu, alokasi anggaran sepatutnya tidak hanya berfokus pada cek kesehatan gratis. Anggaran juga perlu mencakup pemantauan perilaku hidup bersih dan sehat di pesantren oleh puskesmas, hingga imunisasi dan pengobatan bagi santri.

Pemerintah juga perlu meningkatkan efisiensi, akurasi data, serta tindak lanjut penanganan kasus. Aplikasi SATUSEHAT milik Kemenkes, misalnya, bisa diintegrasikan dengan sistem informasi kesehatan pesantren yang memuat laporan kesehatan para santri.

Read more: Pemeriksaan kesehatan gratis: Kenapa sebagian masyarakat masih takut?

Pada akhirnya, untuk mewujudkan lingkungan pesantren yang sehat, cek kesehatan gratis tidak bisa berjalan sendirian. Selain perlu diperluas cakupannya, pemeriksaan kesehatan harus diterapkan berbarengan dengan upaya pencegahan penyakit lain yang perlu diprioritaskan oleh pemerintah.

Dengan begitu, hasil pemeriksaan tidak sekadar berwujud angka, tapi bisa digunakan untuk memberantas masalah kesehatan di pesantren secara menyeluruh.

More Turkmenistan News

Access More

Sign up for Turkmenistan News

a daily newsletter full of things to discuss over drinks.and the great thing is that it's on the house!