Share article
Print article
Sejarah tidak pernah netral. Setiap peristiwa yang kita baca di buku, setiap tanggal yang kita hafal, adalah hasil pilihan tentang siapa yang diceritakan, siapa yang dilupakan, dan siapa yang diberi panggung. Di tengah wacana rekonstruksi sejarah nasional akhir-akhir ini, muncul pertanyaan mendasar, apakah sejarah yang kita warisi benar-benar milik kita semua, atau hanya milik segelintir pihak yang memegang kendali narasi?
Pertanyaan itu kemudian kami bawa ke ruang diskusi daring Conversation Corner "Untuk Siapa Sejarah Ditulis? Menelusuri Ulang Rekonstruksi Sejarah Nasional" pada 25 Juli 2025. Dipandu oleh Hayu Rahmitasari, Editor Pendidikan dan Budaya TCID, diskusi menghadirkan dua narasumber utama, yaitu Adrian Perkasa, peneliti pascadoktoral KITLV, dan Muhammad Fijar Lazuardi, sejarawan Sintas.
Baca juga :Proyek penulisan sejarah nasional Indonesia: Kembalinya narasi yang tak lengkap
Siapa yang mendapat tempat dalam narasi besar sejarah dan siapa yang terpinggirkan?
Sejarah nasional sering kali disajikan sebagai satu versi tunggal yang dianggap "resmi." Dalam kerangka ini, hanya kisah heroik, tokoh besar, dan narasi politik dari pemerintah pusat yang mendapatkan tempat utama. Akibatnya, keragaman pengalaman sejarah justru terpinggirkan.
"Sebetulnya konsekuensi yang ada dengan penulisan sejarah nasional itu tentu semakin menyempitnya narasi-narasi sejarah. Hal-hal yang seharusnya penuh warna atau deliberatif justru menjadi semakin general," kata Muhammad Fijar Lazuardi.
Fijar menambahkan, dalam praktiknya, sejarah lokal, kisah masyarakat adat, maupun tokoh yang kontroversial sering kali tersisih dari ingatan kolektif. Begitu pula dengan kisah korban peristiwa kelam seperti peristiwa 1965 dan Mei 1998 yang kerap diabaikan, meskipun masih ada bukti, laporan investigasi, dan saksi hidup. Penghapusan ini dipandang berbahaya karena berarti negara memilih menutup mata terhadap sisi gelap sejarahnya sendiri.
Dalam diskusi, para narasumber juga menyoroti bias Jawa-sentris yang membuat tokoh dari luar Jawa kadang digambarkan negatif dalam narasi nasional, padahal dalam memori lokal mereka dihormati sebagai pahlawan. Selain itu, bentuk pengetahuan lain seperti tradisi lisan, manuskrip rakyat, atau memori kolektif masyarakat adat kerap dianggap kurang sahih dibanding arsip resmi. Meskipun, sumber-sumber ini justru penting untuk memahami pengalaman nyata masyarakat kecil yang tidak tercatat dalam dokumen negara.
Dalam penulisan sejarah selama ini, pengabaian terhadap suara komunitas lokal, petani, perempuan, dan kelompok marjinal bukan hanya berarti menyingkirkan mereka dari sejarah resmi, tetapi juga mereproduksi ketidakadilan dalam ingatan bangsa.
Penulisan sejarah yang ideal dan inklusif
Penulisan sejarah tidak bisa dipahami hanya sebagai proyek satu buku resmi yang kaku. Dalam diskusi ini, Adrian Perkasa menekankan pentingnya kejelasan tujuan sejak awal, yang harus diiringi dengan transparansi, keterlibatan publik, serta representasi yang merata. Partisipasi ini bisa hadir dalam bentuk pengawasan maupun keterlibatan langsung dalam penulisan. Ia mencontohkan praktik di Belanda, di mana riset sejarah melibatkan puluhan sejarawan dan terbuka terhadap kritik publik. Cara ini tidak hanya menjaga kualitas, tetapi juga memastikan adanya regenerasi dalam dunia sejarah.
Bagi Adrian, sejarah nasional yang ideal sebaiknya berbentuk proyek referensi yang terus diperbarui, mengintegrasikan karya-karya sejarah lokal yang sudah ada, dan dikurasi baik oleh sejarawan maupun komunitas, sehingga bisa digunakan untuk kepentingan akademis maupun pendidikan.
Senada dengan Adrian, Fijar menambahkan, penulisan sejarah yang ideal tidak seharusnya hanya menonjolkan keberhasilan, tetapi juga mengakui kegagalan dan sisi kelam masa lalu agar bisa menjadi pelajaran bersama. Ia menekankan perlunya keterbukaan terhadap masukan publik sebagai bagian dari ciri negara demokratis. Formatnya dapat menyesuaikan dengan kebiasaan modern, yaitu mudah diakses, terkurasi, dan bisa terus diperbarui. Model open source menjadi relevan karena memungkinkan masyarakat mengakses sejarah layaknya mencari data di Google atau Wikipedia, sembari tetap memastikan adanya kurasi akademis yang menjaga kualitas dan akurasi.
Dengan demikian, rekonstruksi sejarah yang kritis, partisipatif, dan inklusif tidak lagi hadir sebagai narasi tunggal yang final, melainkan ruang terbuka yang menampung keberagaman pengalaman. Sejarah menjadi proyek bersama yang tidak hanya mengabadikan puncak kejayaan, tetapi juga berani menghadirkan sisi kelam, sehingga bangsa bisa benar-benar belajar dari masa lalunya.
Turun tangan dalam menuliskan sejarah
Ketika hanya segelintir orang yang memegang kendali atas narasi, selalu ada risiko cerita-cerita lain terhapus atau disisihkan. Di titik ini, keterlibatan publik seharusnya bukan sekadar pelengkap, tapi menjadi kunci. "Dari diskusi malam ini, saya banyak belajar, salah satunya adalah bahwa sejarah harus ditulis dengan objektif dan inklusif, disertai dengan transparansi," ujar Juan Vito Simanjuntak, mahasiswa yang hadir dalam diskusi.
Muh. Naufal Dafri, jurnalis Habar Indonesia, juga sepakat dengan Juan. "Diskusi ini memberi saya perspektif baru dalam melihat bagaimana narasi sejarah dibentuk dan siapa yang diuntungkan atau disisihkan. Hal ini cukup memengaruhi cara saya memandang informasi, terutama saat saya turun ke lapangan untuk meliput. Contohnya, saya jadi lebih peka terhadap suara masyarakat akar rumput yang sering kali luput dalam pemberitaan atau dokumentasi sejarah lokal. Pandangan ini membantu saya menyusun sudut pandang yang lebih berimbang dan reflektif dalam menulis atau mengangkat isu-isu sosial," ungkap Naufal.
Dari ruang virtual yang dihadiri oleh 257 peserta, The Conversation Indonesia berharap diskusi ini dapat bergaung ke ruang publik. Kami ingin mengingatkan bahwa sejarah bukan hanya warisan yang kita terima, tetapi juga tanggung jawab yang kita bangun bersama. Dengan membuka ruang bagi semua suara, kita bukan hanya menulis ulang masa lalu, melainkan juga menata masa depan.
*
Acara Conversation Corner hadir secara rutin setiap bulannya bersama akademisi, peneliti, dan pakar untuk membahas isu sosial terkini. Jika kamu tertarik untuk bekerja sama mengadakan diskusi bersama The Conversation Indonesia, hubungi kami di: [email protected]



















