Campak merebak karena masyarakat takut vaksin: 3 cara memahami manfaat dan risiko imunisasi

Share article

Print article

Vaksin melalui proses panjang dan ketat guna memastikan manfaatnya lebih besar daripada risiko efek sampingnya.

Setelah beredar, vaksin tetap diawasi secara ketat untuk menjaga keamanan masyarakat.

Manfaat vaksin bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk menjaga sesama.

Sebanyak 46 wilayah di Indonesia mengalami kejadian luar biasa (KLB) campak. Campak merebak dari Sumatera Utara, DKI Jakarta, Jawa Timur, Kalimantan Utara, hingga Sulawesi Selatan.

Sekitar 53% kasus campak menyerang anak usia 0 - 4 tahun. Di Sumenep, Jawa Timur, penyakit akibat infeksi Morbilivirus ini menyebabkan 20 anak meninggal dunia.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkapkan banyak orang tua enggan vaksinasi anak mereka-salah satunya karena takut kemungkinan efek samping vaksin.

Read more: Krisis kepercayaan penyebab cakupan imunisasi anak Indonesia menurun 5 tahun terakhir

Padahal, penularan campak melebihi COVID-19. Satu pasien campak kira-kira bisa menulari 18 orang.

Cara efektif mencegah penularan campak adalah melalui vaksinasi MR (campak dan rubella) atau MMR (campak, gondongan, dan rubella).

Sayangnya, cakupan imunisasi dosis kedua campak di Indonesia pada 2024 menurun, persentase anak yang menerima vaksin hanya 82,3%. Kita membutuhkan cakupan vaksinasi 95% untuk membentuk kekebalan komunitas (herd immunity) dan memutus rantai penularan campak.

Orang tua sebetulnya tidak perlu mengkhawatirkan efek samping vaksin secara berlebihan. Sebab, vaksin telah melalui uji ketat sehingga manfaatnya dalam mencegah penyakit jauh lebih besar dibandingkan risiko efek sampingnya.

Berikut tiga cara memahami manfaat dan risiko imunisasi:

Jenis, frekuensi, maupun tingkat keparahan efek samping setiap vaksin memang bervariasi.

Vaksin campak yang digunakan dalam program imunisasi gratis nasional adalah vaksin MR.

Efek samping yang sering terjadi setelah vaksinasi MR, yaitu nyeri di area suntikan, demam ringan, dan ruam. Adapun efek samping yang jarang terjadi berupa nyeri sendi. Sementara itu, efek samping berat sangat jarang terjadi.

Komite Nasional Kejadian Ikutan Pascaimunisasi (Komnas KIPI) pada 2024 menyatakan bahwa mayoritas efek samping vaksin yang dilaporkan di Indonesia tidak tergolong serius.

Artinya, efek samping vaksin tidak mengancam jiwa, tidak memerlukan rawat inap, serta tidak menimbulkan kecacatan permanen ataupun kondisi medis berat seperti reaksi alergi anafilaksis.

Data soal jenis, frekuensi, dan tingkat keparahan efek samping vaksin tidak muncul begitu saja. Data tersebut diperoleh dari proses pengembangan maupun pengawasan vaksin yang ketat, sebelum dan sesudah dipasarkan.

Sebelum digunakan masyarakat, kandidat vaksin diuji berulang kali untuk memastikan efektivitas dan keamanannnya (tidak menimbulkan efek beracun).

Tahapannya mulai dari uji simulasi komputer in silico, uji laboratorium sel kultur in vitro, lalu uji coba in vivo pada hewan.

Setelah lulus tahapan tersebut, kandidat vaksin dapat diujikan pada manusia secara bertahap, mulai uji klinis fase I, II, hingga III. Uji klinis melibatkan ribuan hingga puluhan ribu orang.

Kandidat vaksin yang menimbulkan efek samping berat ataupun tidak manjur pada uji coba fase awal tidak dapat maju ke tahap berikutnya.

Read more: Campak: kenapa WHO menyatakannya sebagai 'ancaman global yang segera datang'

Jika kemanjuran sebuah vaksin yang diuji lebih besar daripada risiko efek sampingnya, regulator seperti Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dapat menyetujui penggunaan vaksin di masyarakat.

Studi terdahulu menyebutkan bahwa proses pengembangan awal vaksin hingga terbit izin edar membutuhkan waktu hingga 15 tahun.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut vaksin sebagai the most cost-effective public health intervention alias tindakan kesehatan masyarakat paling hemat biaya, tapi memberikan manfaat paling besar.

Sebab, vaksin ampuh dalam mencegah jutaan kematian setiap tahun. Vaksin juga mengurangi beban penyakit dengan biaya jauh lebih rendah dibandingkan perawatan ketika sakit.

Dua dosis vaksin MR efektif memberikan perlindungan yang sangat tinggi, yaitu sekitar 97% dalam mencegah campak. Dosis pertama diberikan saat anak usia 9 bulan, dosis kedua pada usia 18 bulan. Lalu, disusul vaksinasi tambahan saat anak masuk sekolah dasar.

Sebelum ada vaksin campak, tingkat kematian akibat penyakit ini diperkirakan 3-6% di negara berpendapatan rendah. Bahkan jumlahnya bisa mencapai 10-30% di kawasan dengan gizi buruk, akses kesehatan rendah, ataupun wabah di populasi terisolasi.

Sementara setelah ada vaksin campak, angka kematian menurun secara signifikan hingga sekitar 0,1-1% di banyak negara.

Setelah lolos uji klinis dan diproduksi massal, sebuah produk vaksin tidak dilepas begitu saja. Vaksin dipantau secara ketat melalui uji klinis fase IV dan sistem pelaporan efek samping, untuk memastikan manfaat dan keamanan penggunaannya di masyarakat.

Jika menimbulkan efek samping, masyarakat dapat melaporkannya ke fasilitas kesehatan. Laporan kemudian ditindaklanjuti lewat investigasi Komnas KIPI.

Lewat sistem pemantauan ini, tiap dugaan efek samping akan dianalisis, apakah benar terkait vaksin atau disebabkan oleh faktor lain.

Jika terbukti karena vaksin, BPOM akan melakukan tindak lanjut dengan memberikan peringatan, pembaruan informasi keamanan, hingga penyesuaian rekomendasi penggunaan untuk melindungi kesehatan masyarakat.

Vaksinasi campak dilakukan bukan hanya untuk melindungi anak, tapi juga diri sendiri dan masyarakat.

Lewat vaksinasi, kita membentuk kekebalan komunitas yang bisa memutus penularan dan membuat virus sulit menemukan inang baru.

Hal ini penting, terutama dalam melindungi kelompok rentan yang tidak bisa menerima vaksin, seperti orang dengan sistem kekebalan lemah dan punya kondisi medis tertentu, alergi berat terhadap komponen vaksin MR (seperti neomicin), ataupun ibu hamil.

Pada akhirnya, vaksinasi merupakan bentuk tanggung jawab moral kita dalam menjaga sesama.

More Turkmenistan News

Access More

Sign up for Turkmenistan News

a daily newsletter full of things to discuss over drinks.and the great thing is that it's on the house!