Mengenali trauma masa kecil pakai AI

Mengenali trauma masa kecil pakai AI

The Conversation
19 Sep 2025, 04:00 GMT+

Share article

Print article

Pengalaman buruk di masa kecil bisa memicu trauma hingga gangguan mental.

AI berpotensi digunakan untuk membantu mengenali pengalaman buruk masa kecil.

Agar tepat sasaran, AI perlu melibatkan remaja, orang tua, hingga penyintas gangguan mental.

Sekitar 78% kaum muda Indonesia melaporkan pernah mengalami pengalaman buruk di masa kanak-kanak yang sering kali berpotensi menimbulkan trauma atau adverse childhood experiences (ACE). Hal ini terutama akibat kekerasan yang mereka alami atau saksikan di lingkungan rumah maupun sekolah.

Dalam jangka panjang, pengalaman tersebut berisiko menimbulkan masalah kesehatan mental, seperti kecemasan dan depresi.

Penelitian tahun 2021 dalam jurnal Child Abuse & Neglect mengungkapkan orang dengan pengalaman buruk di masa kecil bahkan berisiko mengulangi tindak kekerasan yang dia terima ke anak sendiri atau anak lainnya.

Read more: 1 dari 3 kaum muda rentan kena gangguan mental, tapi kenapa sedikit yang ke psikolog?

Sayangnya, lingkungan sekitar (seperti keluarga dan guru) tidak memahami dampak pengalaman buruk tersebut. Akibatnya, kasus gangguan mental di Indonesia sering kali terlambat didiagnosis dan ditangani.

Untuk membantu meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai penanganan pengalaman buruk di masa kanak-kanak, tim peneliti dari Monash University, Indonesia tengah mengembangkan platform digital berbasis kecerdasan buatan (AI) bernama Kita Bersama.

Studi tahun 2024 dalam Journal of Medicine, Surgery, and Public Health mengungkapkan bahwa AI ternyata bisa mendeteksi perubahan emosional sejak dini melalui bahasa yang digunakan, pola tidur, aktivitas fisik, hingga interaksi sosial seseorang.

Kemampuan ini berasal dari sistem AI dalam mengenali pola dan menganalisis data berjumlah besar.

Sistem ini pula yang membantu AI dalam melakukan skrining dini gangguan mental, termasuk mengidentifikasi pengalaman buruk di masa kecil sebelum berkembang semakin parah.

Agar penggunaannya tepat sasaran, pengembangan AI perlu disesuaikan dengan konteks dan kebutuhan lokal masyarakat Indonesia. Hal ini mencakup sistem kesehatan, pendidikan, bahasa, budaya, hingga dinamika keluarga dalam pengambilan keputusan medis.

Tujuannya adalah untuk mengurangi risiko bias diagnosis, akibat ketidakmampuan AI dalam memperhitungkan konteks sosial, budaya, dan sistem kesehatan di Indonesia.

Selain bisa memberikan diagnosis keliru, bias AI bisa memperparah stigma terhadap kelompok rentan.

Karena itu, dalam pengembangan Kita Bersama, tim peneliti menggelar rangkaian lokakarya desain platform AI bersama (co-design workshop). Lokakarya ini mengundang peserta remaja usia 10 - 24 tahun, orang tua mereka, guru, serta petugas kesehatan.

Dalam prosesnya, para peserta diajak berdiskusi mengenai bagaimana platform Kita Bersama kelak bisa membantu para remaja dalam meningkatkan kemampuan beradaptasi di tengah bayang-bayang pengalaman buruk masa kecil.

Hal lain yang didiskusikan, yaitu bagaimana platform ini bisa membantu orang tua meningkatkan kemampuan parenting, serta bagaimana sistem pendidikan dan kesehatan kita bisa mendukung tujuan tersebut.

Setelah melalui sederet proses itu, barulah ditentukan bagaimana model AI dapat memfasilitasi kebutuhan pengguna.

Penelitian ini masih dalam tahap awal. Pada 2025, fokus penelitiannya dilakukan di dua provinsi di Indonesia terlebih dahulu, yaitu Jawa Barat dan Kalimantan Timur.

Tim penelitiannya juga beranggotakan penyintas gangguan mental. Hal ini diperlukan agar platform yang dikembangkan benar-benar bisa memenuhi kebutuhan para penyintas.

Kehadiran platform Kita Bersama bukan untuk menggantikan peran psikolog atau psikiater.

Karena itu, pengguna platform yang telah mempelajari bahwa dirinya memiliki indikasi masalah mental akibat pengalaman buruk masa kecil, nantinya tetap akan diarahkan untuk berkonsultasi kepada profesional.

Read more: AI bisa salah diagnosis dan diskriminatif: Konsultasi kesehatan mental tetap harus ke profesional

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa AI belum bisa menggantikan aspek relasional dan empati dalam interaksi manusia dengan manusia (antara pasien dan terapis). Kedua aspek tersebut merupakan inti dari proses penyembuhan dalam terapi psikologis.

Pengembangan platform Kita Bersama tentu masih memiliki banyak PR, agar benar-benar bisa berorientasi luas dalam memenuhi kebutuhan pengguna layanan kesehatan mental di Indonesia.

Kesenjangan digital masih lebar merupakan salah satu tantangannya. Di banyak wilayah terpencil, akses internet masih terbatas, perangkat tidak memadai, serta literasi kesehatan digital masyarakatnya masih rendah.

Selain itu, persoalan etika dan privasi perlu diperhatian secara serius. Informasi kesehatan mental termasuk dalam kategori data sangat sensitif yang rentan disalahgunakan. Pengumpulan, penyimpanan, serta penggunaan data ini harus tunduk pada prinsip transparansi, persetujuan sadar, serta perlindungan yang ketat.

Seluruh penerapan ini tentunya harus disertai prinsip kehati-hatian dengan menjamin privasi, akurasi, informed consent, dan supervisi manusia.

More Turkmenistan News

Access More

Sign up for Turkmenistan News

a daily newsletter full of things to discuss over drinks.and the great thing is that it's on the house!